Oleh: Aris Hidayatullah
Genap. Adalah utuh, lengkap dan tidak ganjil. Begitupun pernikahan, bukan hanya tentang melepas status dari aku menjadi kita, lebih dari itu pernikahan menjadi awal untuk saling melengkapi diantara dua insan yang berbeda, hingga menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb-Nya. Pernikahan bukan soal tentang mengedepankan perasaan sendiri, akan tetapi juga tentang perasaan orang yang menggenapi. Menyatukan adalah esensi dari pernikahan, termasuk menyatukan perasaan agar terucapnya kata bahagiamu adalah bahagiaku, sedihmu juga sedihku. Jika sudah begitu, maka lengkpalah tulang rusuk yang hilang itu, memulai cerita hidup baru dengan menggenap.
Dalam prosesnya, menggenap itu ada yang cepat, ada juga yang lambat. Karena dalam menggenapkan itu perlu waktu untuk menemukan potongan rusuk yang hilang agar bisa disandingkan dalam sebuah ikatan pernikahan. Walaupun telah ditemukan, terkadang potongan itu tidak pas dengan tulang rusuk yang ada. Ya, tidak cocok. Akan tetapi dalam pernikahan itu bukan soal cepat atau lambatnya. Namun, soal kesungguhan mempersiapkan serta memantaskan diri dalam ruang tunggu sampai waktu menggenap itu tiba.
Tatkala menggenap tiba, banyak kebahagian dan kemungkinan tercipta. Bahkan ruang tunggu itu pun akan masih ada, namun dengan objek yang ditunggunya beda. Seperti menunggu saat-saat mengganjil, yaitu saat generasi pertama dari penggenapan akan hadir. Yang tak kalah penting, menikah juga merupakan upaya menyempurnakan setengah Agama. Karena dengan menikah pandangan serta syahwat akan terjaga, setiap kasih dan sayang menjadi nilai ibadah bukan lagi sumber dosa berjamaah. Menikah harus menambah ketaatan kepada Sang Pencipta serta kebaikan kepada sesama. Ya, selain menggenapkan dua insan, pernikahan juga menunggalkan keimanan.
Selamat menggenap Guruku.
Bapak Andri Ramdani Sumarna, M.Pd. dengan Ibu Ajeng Isti Pratiwi, S.P.
Muridmu ini masih betah di posisi ganjil dan lebih memilih menyibukkan dengan studinya, untuk sekedar melangkah di ruang tunggunya saja belum siap, karena belum pantas menggenapkan diri.
Photo Mempelai Pengantin (Andri Ramdani Sumarna, M.Pd dan Ajeng Isti Pratiwi, S.P.) Gedung Balai Sartika Convention Hall, Bandung 21 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar